Rabu, 29 Mei 2013

Salah Satu Simulasi Penanganan Resep Di Apotek

Secara Singkat, berikut ulasan penanganan resep di apotek yaitu :
1) Skrining Resep
Skrining resep secara administratif meliputi kelengkapan resep
Dalam skrining resep berkaitan dengan pengobatan rasional Apoteker diharapkan dapat melakukan Anamnese keFarmasian (AF)

2) Penilaian Pengobatan Rasional oleh Apoteker
3) Peracikan obat (Compounding & Dispensing)
3) Penyerahan dan pemberian KIE (Konseling Informasi dan Edukasi) pasien
dan berikut ini adalah salah satu contoh penanganan resep di apotek, (Contoh ini adalah UTS mata kuliah Compounding & Dispensing, Jawaban atas resep ini dikerjakan oleh Fischer Raditya Simorangkir (Mhs Profesi PS-Apoteker Jurusan Farmasi Udayana, Angkatan ke 4)

Dr. Leo, Sp.PD
SIK : 19/DIKES/2009
JL Raya Sesetan no 98
22-07-2011
R/ Zumafib        No L
      S 1 dd I
R/  Hp Pro       No XXX
      S 1 dd  I
Pro      : Bader

I.       SKRINING RESEP
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang standar pelayanan    kefarmasian di apotek, persyaratan administratif dalam penulisan resep adalah:
-       Nama, SIP dan alamat dokter.
-       Tanggal penulisan resep.
-       Tanda tangan/paraf dokter penulis resep.
-       Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien.
-       Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang minta.
-       Cara pemakaian yang jelas.
-       Informasi lainnya.
II.          SPESIFIKASI OBAT
A.     Zumafib
Komposisi              :  Fenofibrat
Efek farmakologis: Fenofibrat merupakan agonis peroxisome proliferator-activated receptor-alpha (PPAR-alpha), yang menurunkan regulasi apoprotein C dan menaikkan regulasi apoliprotein a-1, protein transport asam lemak, dan lipoprotein lipase menghasilkan peningkatan VLDL katabolisme, oksidasi asam lemak, dan eliminasi partikel trigliserida (Lacy,et al. 2009).
Efek Samping     : Hepatik : Kerusakan hati (3-13%).
                             Sistem saraf pusat : Sakit Kepala (3%).
                             Gastrointestinal : Nyeri abdominal (5%), Konstipasi (2%), Nausea (2%).
                             Neuromuskular dan skeletal : Nyeri punggung (3%) (Lacy, et al. 2009).
Kontraindikasi    : Kehamilan (Farktor resiko C) (Lacy, et al. 2009)
Interaksi Obat    :  Meningkatkan efek dari obat – obat : Ezetimibe, Sulfonilurea, antagonis vitamin K dan Warfarin (Lacy, et al. 2009).
Dosis                 : Hipertrigliseridemia : 45-135 mg perhari. Dosis maksimum 135 mg per hari.
                             Hiperkolestrolemia : 50-135 mg per hari. Dosis maksimum 135 mg per hari.
B.     HP Pro
Komposisi        :  Curcuma Zedoaria, Curcuma xhantorriza, Ipomoea pres-caprael.s, Phylanthus urinaria, madu.
Efek farmakologis: Hepatoprotektor, suplemen.
Dosis                : 1-3 kali sehari : Suplemen untuk hati.
III.       ANAMNESE KEFARMASIAN
            Analisis jenis penyakit secara umum dapat dilakukan berdasarkan jenis dan indikasi obat. Pasien diberikan Zumafib dengan kandungan fenofibrat yang diindikasikan untuk hiperkolestrolemia dan hipertrigliseridemia. Hp pro diduga digunakan sebagai suplemen untuk melindungi fungsi hati untuk mencegah kerusakan hati. Berdasarkan hal tersebut diduga pasien menderita hiperlipidemia yang memiliki efek lanjutan berupa perlemakan hati (fatty liver). Gambar berikut merupakan algoritme penatalaksanaan hiperlipidemia: hipertrigliseridemia.
Untuk meyakinkan anamnese kefarmasian ini maka dilakukan cross check kepada pasien dengan menanyakan keluhan yang disampaikan pasien kepada dokter. Adapun hal-hal yang perlu ditanyakan kepada pasien:
1.      Keluhan apa yang anda sampaikan ke dokter?
Jawab: Saya punya penyakit kolesterol (Pasien berbadan gemuk/obesitas)
2.    Bagaimana penjelasan dokter tentang obat yang diresepkan untuk anda?
       Jawab:  Saya mendapat obat untuk kolesterol saya.
3.     Bagaimana penjelasan dokter mengenai cara penggunaan obat ini?
      Jawab: Dokter tidak mengatakan mengenai cara penggunaan obat.
4.    Bagaimana penjelasan dokter tentang harapan setelah anda mendapatkan pengobatan ini?
      Jawab: Setelah mengkonsumsi obat, kolesterol saya turun.
5.      Anda sudah melakukan cek laboratorium sebelumnya?
Jawab: Sudah. Saat itu dokternya mengatakan kolesterol saya cukup tinggi.
6.      Apakah bapak sebelumnya sudah mengkonsumsi obat lain?
Jawab: Tidak.

Hasil Test Laboratorium Pasien Bader

Indikator
Pasien
Normal
Status
-      Fungsi ginjal
Natrium
Kalium
Klorida
CO2
BUN
SCR

-      140 mEq/L
-      4,2 mEq/L
-      105 mEq/L
-      28 mEq/L
-      11 mg/dL
-      1,0 mg/dL

-         135 - 145mEq/L
-         3,5 - 5 mEq/L
-         95 -105 mEq/L
-         20-29 mEq/L
-         7-20 mg/dL
-         0-8 – 1,4mg/dL

Fungsi ginjal
normal
-       Gula darah
Kadar glukosa
HbA1C
-       120  mg/dL
-       6,2 %
-         <140 mg/dL
-         < 7%
Normal
-      Fungsi hati (LFT)
ALT (SGPT)
AST (SGOT)
GGT (penanda penyalahgunaan alkohol)
T.bilirubin
T.protein
Albumin
INR(tes koagulasi)

-      20 IU/L
-      18 IU/L
-      20 IU/L


-      0,5 mg/dL
-      7,5 g/dL
-       3,5 g/dL
-      1,0

-         < 23 IU/L
-         < 21 IU/L
-         6-37 IU/L


-         0,2-1,3mg/dL
-         7,2-8,0 g/L
-         3,5-5,0 g/dL
-         0,8-1,2



Normal
-       Darah
Hgb
Hct
RBC
Plt
Wbc

-      14 g/dL
-      43%
-      4,7 x 106/mm3
-      262 x 103/mm3
-      6,2 x 103/mm3

-         14-17,5 mg/dL
-         20-50% (P)
-         4-6 x 106/mm3
-         140-340 x 103/mm3
-         4,5-10 x l03mm3

Normal
-       Kadar Lipid
TC            
LDL
HDL
TG

-        250 mg/dL
-        10mg/dL
-        65 mg/dL
-        280 mg/dL

-         150-200 mg/dL
-         < 100 mg/dL
-         45-65 mg/dL (P)
-         120-190 mg/dL

Hiperkolestrolemia, Hipertrigliseridemia
-       Tekanan darah
-       120/80 mmHg
-       120/80 mmHg
 Normal

Berdasarkan hasil komunikasi yang singkat antara apoteker dengan pasien, maka hasil anamnese kefarmasian adalah pasien diduga menderita hiperkolestrolemia (kadar kolesterol total diatas batas normal) dan hipertrigliseridemia (kadar trigliserida [TG] diatas normal)
V.       PENILAIAN PENGOBATAN RASIONAL
a.      Tepat Indikasi
Ketepatan indikasi obat ditentukan berdasarkan ketepatan diagnosa dan keluhan pasien. Berdasarkan anamnese kefarmasian yang dilakukan dengan meninjau indikasi obat-obat dalam resep serta keluhan pasien yaitu pasien mengeluh mengalami kolesterol yang tinggi (Pasien berbadan gemuk/obesitas). Dalam resep tidak dicantumkan dosisZumafib sehingga digunakan dosis yang paling kecil yang beredar dipasaran yaitu 100 mg. Umumnya pada dosis tersebut digunakan untuk pengobatan hipertrigliseridemia dengan dosis 100 mg per hari dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama (50 hari)Obat Hp Pro digunakan untuk melindungi fungsi hati dan mencegah kerusakan hati, karenahiperkolestrolemia dapat menyebabkan perlemakan hati (fatty liver). Selain itu, pasien Bader mengkonsumsi obat dalam jangka waktu yang lama (50 hari). Hp Pro disini hanya sebagai suplemen saja, maka dosis 1 kali sehari sudah cukup.

b.      Tepat Obat
Obat yang diresepkan dokter adalah:
1.      Zumafib yang diindikasikan untuk Hiperkolestrolemia dan Hipertrigliseridemia.
2.      HP Pro merupakan hepatoprotektor berfungsi sebagai suplemen untuk melindungi fungsi hati.

c.       Tepat Dosis
·      Zumafib
    Dosis oral : Hipertrigliseridemia : 45-135 mg perhari. Dosis maksimum 135 mg per hari.
                       Hiperkolestrolemia : 50-135 mg per hari. Dosis maksimum 135 mg per hari.
(Lacy, et al. 2009).
Dosis dalam resep tidak dicantumkan sehingga digunakan dosis yang paling kecil yang beredar dipasaran yaitu 100 mg.
ü   Sekali pakai : 100 mg
ü   Sehari pakai : 100 mg (sudah sesuai dengan rentang terapeutik).
     Administrasi : 6 – 8 minggu (Lacy, et al. 2009).
     Dalam resep, pasien menerima terapi selama 50 hari (Sudah sesuai dengan administrasi).
·      Hp Pro
     Suplemen hati : 1 kali sehari (Sudah tepat dosis).

d.      Tepat Pasien
Pasien merupakan pasien dewasa dan tanpa gangguan menelan sehingga pemberiankapsul telah sesuai dengan kondisi pasien.

e.      Waspada Efek Samping
Penggunaan Zumafib dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati yaitu perlemakan hati (fatty liver) dengan persentase kejadian 3-13% (Lacy, et al. 2009). Untuk itu, pemberian obat Hp Pro sebagai suplemen untuk melindungi fungsi hati dan mencegah kerusakan hati pasien sudah tepat.

Kesimpulan : Resep Rasional sehingga bisa diproses untuk penyiapan obat.

VI.          FARMAKOEKONOMI
Tabel 1. Perbandingan Harga Sediaan
Sediaan
Penawaran 1
Penawaran 2
Zumafib 50 kapsul
(Fenofibrat)
Rp    140.000,00(Zumafib/Sandoz)
Rp 135.000,00(Felosma/Bernofarm)
HP pro @Rp 4.000,00
Rp   120.000,00
Rp   120.000,00
Biaya Tambahan(Plastik Klip)
Rp       3.000,00
Rp       3.000,00
Jumlah
Rp   163.000,00
Rp   158.000,00

Pemberian Zumafib dan Hp Pro dinilai telah rasional dan memenuhi aspek farmakoekonomi, karena dokter telah meresepkan obat yang benar – benar dibutuhkan oleh pasien.

VII.          PENYERAHAN OBAT DAN PEMBERIAN KIE
1.      Pasien diserahkan obat berupa kapsul Zumafib sebanyak 5kapsuldan Hp Pro sebanyak 3kapsul.
2.    Pasien diberikan informasi mengenai pemakaian obat Zumafib diminum 1 kali sehari pada pagi hari   setelah makan, obat Hp Pro juga diminum 1 kali sehari pada pagi hari setelah makan.
3.     Pasien diberitahukan bahwa obat disimpan di tempat kering dan tidak terkena sinar matahari langsung pada suhu kamar (15-300C). Jika dimungkinkan obat dapat disimpan dalam kotak obat (dengan silika gel).
4.      Pasien disarankan untuk berolahraga dengan teratur.
5.      Pasien disarankan mengurangi konsumsi makanan berlemak dan makanan yang berkolesterol tinggi.
6.      Pasien disarankan beristirahat yang cukup.
7.    Pasien disarankan untuk cek laboratorium kembali, guna mengetahui kadar kolesterol pasien, 1 bulan setelah mengkonsumsi obat.
8.      Apabila keadaan pasien tidak membaik, disarankan segera kembali dokter.
VIII. DAFTAR PUSTAKA

AAFP. 2012. Algorithm for managing hyperlipidemia : hypertriglyceridemia. USA: American Academy of Family Physician (Cited 2012 March, 20) Available from: http://www.aafp.org/afp/2007/0501/afp20070501p1365-f1.gif
 Anonim. 2010ISO Indonesia. Jakarta: PT ISFI Penerbitan
 MenKes RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek(Cited 2011 September, 22). Available from: URL:
 Lacy, C.F., Lara, L.A., Morton, P.G, Leonard, L.L. 2009. Drug Information Handbook 18thedition. United States of Amerika; Lexi-comp, Inc.

Source : 
http://gelgel-wirasuta.blogspot.com/2011/06/audit-resep-di-apotek-dalam-praktek.html showComment=1369885622179#c2376192385267773048